Sabtu, 28 Agustus 2021

2.2.a.10.1. Forum Berbagi Aksi Nyata - Pembelajaran Sosial dan Emosional

Pada hakikatnya, Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Dalam proses kolaborasi ini, memungkinkan siswa dan guru di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. 

Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi, menetapkan dan mencapai tujuan positif, merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain, membangun dan mempertahankan hubungan yang positif, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Pembelajaran sosial dan emosional dapat diberikan dalam 3 ruang lingkup, yakni melalui kegiatan rutin, tegrintegrasi dalam mata pelajaran, maupun budaya atau aturan sekolah. Pada kesempatan kali ini, saya menerapkan PSE yang terintegrasi dalam mata pelajaran.

Sebelum melaksanakan PSE dalam mata pelajaran, saya membuat perencanaan pembelajaran dengan melihat kebutuhan belajar siswa. RPP berdiferensiasi dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa, saya tambahkan dengan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) di dalamnya. 

PSE yang saya integrasikan yaitu :

1. Kesadaran Diri-Pengenalan Emosi, melalui teknik STOP saat proses pembelajaran dan pemberian emoticon di akhir pembelajaran.

2. Kesadaran Sosial-Keterampilan Berempati

3. Keterampilan dalam Berhubungan Sosial-Daya lenting

Setelah melaksanakan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dengan memasukkan pembelajaran berdiferensiasi di dalmnya, siswa merasa senang karena mereka dapat belajar sesuai minat dan gaya belajar mereka. Konten yang disajikan juga beragam (video, audio, teks). Saya sebagai guru juga merasa senang karena dapat mengetahui perasaan mereka selama mengikuti pembelajaran serta mengajarkan mereka teknik STOP. Saya melihat mereka dapat mengenali emosi dan perasaan mereka, keterampilan berempati saat menanggapi laporan wawancara terhadap keadaan usaha masyarakat di masa pandemi, serta keterampilan berhubungan sosial yakni daya lenting saat bermain peran/role playing.

Pembelajaran yang saya lakukan secara daring menggunakan Wifi, sempat terjadi kendala pada koneksinya, sehingga ada beberapa bagian yang suaranya tidak terekam jelas. Untuk rencana perbaikan ke depannya, saya akan memeriksa koneksi Wifi atau menggunakan paket data agar lebih stabil. 

Saya menyadari, ternyata melalui Pembelajaran Sosial Emosional dapat membantu siswa mengenali emosinya, serta dapat merespon kondisinya maupun lingkungan sosialnya dengan tepat. Selanjutnya, saya akan menerapkan PSE dalam kegiatan rutin maupun budaya sekolah.

Berikut ini link RPP PSE dengan integrasi pembelajaran diferensiasi didalamnya:

https://drive.google.com/file/d/115oQNG7ccw7-wb7-waA0UmiR6Lhoh61h/view?usp=sharing

Dokumentasi Pelaksanaan PSE dapat di akses di youtube:

https://youtu.be/lXSOOV0E6v0





Kamis, 26 Agustus 2021

2.2.a.9 Koneksi Antar Materi-Pembelajaran Sosial Emosial

Pembelajaran Sosial Emosional

Proses belajar seumur hidup untuk lebih memahami diri kita sendiri, terhubung dengan orang lain, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan dan mendukung komunitas kita (https://casel.org)

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) akan lebih berhasil bila dilaksanakan secara kolaboratif oleh semua pemangku kepentingan di sekolah. 

Tujuan Pembelajaran Sosial Emosional

1.  Memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi.

2.  Menetapkan dan mencapai tujuan positif

3.  Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain

4.  Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif

5.  Membuat keputusan yang bertanggung jawab

Ruang Lingkung Pembelajaran Sosial Emosional

Rutin

Diluar waktu belajar akademik, misalnya: kegiatan ekstrakurikuler, perayaan hari besar, pelatihan, dan sebagainya.

Terintegrasi dalam Mata Pelajaran

Misalnya melakukan diskusi kasus atau kerja kelompok dalam sebuah topik mata pelajaran

Protokol/Budaya Sekolah

Aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu

Kompetensi Sosial Emosional

Ada 5 kompetensi sosial emosional, yaitu:

1.  Kesadaran diri-Pengenalan Emosi

2.  Pengelolaan Diri-Pengelolaan Emosi dan Fokus

3.  Kesadaran Sosial-Empati

4.  Keterampilan Sosial-Resiliensi

5.  Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab

Dampak Pembelajaran Sosial Emosional

Dampak dari keberhasilan dalam penerapan KSE (Kompetensi Sosial Emosional) tersebut tidak hanya pada kesuksesan diri seseorang dalam akademik yang lebih baik, namun juga memberikan pondasi yang kuat bagi seseorang untuk dapat sukses dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik.

Keterkaitan Antar Materi Pembelajaran Sosial Emosional dengan Modul Sebelumnya

Seorang guru penggerak yang memiliki nilai kemandirian, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak kepada murid harus menggunakan segala kekuatan dan potensi yang ada untuk membangun budaya positif di sekolah. Budaya positif yang dikembangkan hendaknya dapat mendorong pemenuhan kebutuhan belajar murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. 

Jika pembelajaran sosial emosional dengan pendekatan kesadaran penuh (mindfulness) menjadi budaya positif di sekolah, maka pembelajaran berdiferensiasi akan lebih mudah diterapkan. Hal ini tentunya akan membahagiakan murid karena pembelajaran yang disajikan sesuai dengan kebutuhan belajar, baik melalui pendekatan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional diharapkan dapat mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Dengan demikian, terwujudlah generasi yang cerdas dan berkarakter. 



Rabu, 25 Agustus 2021

12.1.a.10 AKSI NYATA MODUL 2.1

 Pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan belajar murid. Dalam melakukan pemetaan kebutuhan murid, guru perlu melihat aspek kesiapan belajar, minat murid, dan profil belajar murid. Selanjutnya guru menentukan strategi apa yang cocok untuk pembelajaran berdiferensiasi yang akan dilakukan. Secara umum, ada 3 strategi diferensiasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran, yakni diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. 

Dalam pembelajaran, guru juga perlu menciptakan iklim belajar yang positif. Dengan adanya iklim belajar yang positif, setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut baik, setiap orang saling menghargai, murid akan merasa aman, ada harapan bagi pertumbuhan, guru mengajar untuk mencapai kesuksesan, tercipta keadilan dalam bentuk nyata, serta ada kolaborasi antara guru dan siswa untuk kesuksesan bersama.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan guru, diharapkan seluruh murid mendapat kesempatan belajar yang sama sesuai kebutuhananya. Selain itu, murid juga dapat memaksimalkan potensi yang dimilikinya melalui pembelajaran berdiferensiasi sesuai kesiapan, minat mereka, maupun gaya belajar mereka. Pembelajaran berdiferensiasi erat kaitannya dengan merdeka belajar. Pembelajaran berdiferensiasi, merupakan suatu langkah dalam mewujudkan pendidikan yang humanis, sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara.

Kegiatan yang saya lakukan, sebelum melakukan pembelajaran berdiferensiasi yakni melakukan pemetaan kebutuhan murid. Setelah memperoleh data hasil pemetaan, selanjutnya saya memilih strategi dan menyusun rencana pembelajaran.

Adapun hasil pemetaan kebutuhan belajar murid dan rencana pelaksanaan pembelajaran, dapat diakses pada link berikut:

https://drive.google.com/file/d/1HAYwbyrxpUCn7M4a2oiHf4enaoi1fXks/view?usp=sharing

Dari hasil pemetaan kebutuhan, diperoleh hasil ada siswa yang memiliki gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Selain itu, dapat diketahui pula minat siswa dalam seni, olahraga, membaca, maupun memasak. 

Pada proses pembelajarannya, saya memberikan aktivitas belajar yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Pada kegiatan akhir, saya memberikan tugas pada siswa untuk membuat produk komik yang sesuai dengan minat siswa. 

Sebelum melaksanakan pembelajaran jarak jauh, di awal tahun ajaran, saya membuat angket kesiapan belajar siswa, yakni lebih nyaman belajar dengan vicon, link, atau print out materi. Dari hasil tersebut, siswa di kelas saya memiliki 2 cara, yakni melalui vicon dan link bagi yang terkendala HP dipakai bergantian dengan orangtua. Sehingga dalam menyampaikan materi pembelajaran pun, dilakukan dengan 2 cara tersebut.

Berikut ini, penyampaian materi melalui link yang dikirim di WhatsApp Grup Kelas:


Untuk kegiatan pembelajaran melalui vicon teams adalah sebagai berikut:




Berikut ini dokumentasi untuk pembelajaran berdiferensiasi:





Setelah saya melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, saya juga membagikan pengalaman saya dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada rekan guru melalui KKG intern di sekolah.



Adapun refleksi dari rekan guru adalah sebagai berikut:




Semoga aksi nyata yang dilakukan tentang pembelajaran berdiferensiasi ini dapat bermanfaat.


PEMBATIK LEVEL 4: BERBAGI DAN BERKOLABORASI

  KEGIATAN PEMBATIK LEVEL 4: BERBAGI DAN BERKOLABORASI Pada kegiatan pembaTIK level 4, saya mempelajari 3 Modul yaitu: Modul 11 : Membangun ...