AKSI NYATA MODUL 3.3
GERAKAN LITERASI "SAGUSAKA"
Oleh: Masfufah Chiptoworohapsari
CGP Angkatan 2 Kota Surabaya
Peristiwa
1. Latar Belakang
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah gerakan dalam upaya menumbuhkan budi pekerti siswa yang bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat. Literasi saat ini lebih dari sekedar membaca dan menulis. Literasi dapat mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, dan auditori.
Kegiatan literasi yang telah berjalan sebelumnya adalah membaca 15 menit sebelum mulai pembelajaran. Namun kegiatan yang telah dilakukan belum sepenuhnya dapat menumbuhkan minat baca tulis serta berpikir kritis siswa, apa lagi menghasilkan sebuah karya. Minat baca dan tulis siswa masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam memahami suatu bacaan. Oleh karena itu, Calon Guru Penggerak (CGP) berinisiatif untuk mengembangkan kegiatan literasi dengan Program "Sagusaka". Sagusaka adalah akronim dari Satu Minggu Satu Karya.
Program literasi "Sagusaka" diharapkan dapat meningkatkan kemampuan literasi siswa. Selain itu, program ini dapat digunakan sebagai ajang penyaluran kreativitas siswa dalam membuat karya dari hasil literasi.
2. Proses Jalannya Aksi dan Alasan Melakukan Aksi Tersebut
Sebelum menjalankan aksi, CGP melakukan koordinasi bersama siswa, kepala sekolah, pustakawan, rekan guru, dan wali murid terkait jalannya GLS selama ini. Ide-ide yang muncul ditampung dengan melihat sumber daya yang dimiliki sekolah. Melalui pemetaan aset yang ada, maka tercetuslah 4 kegiatan yang akan dikembangkan. Kegiatan tersebut adalah mengoptimalkan sudut baca kelas dan lingkungan sekitar siswa. Dari hasil koordinasi, ada juga wali murid yang berinisiatif untuk menyumbang buku untuk menambah koleksi bacaan. Untuk proses jalannya aksi dilakukan selama 4 pekan.
Pekan pertama : Siswa diajak untuk menjelajah dan mengamati lingkungan sekitar rumah. Setelah itu bertukar informasi dengan rekan terkait lingkungan masing-masing. Selanjutnya siswa membuat puisi yang berkaitan dengan lingkungan. Di akhir pekan pertama, siswa menyajikan puisi karya mereka di kelas virtual.
Pekan kedua : Siswa diajak untuk mengamati sebuah pantun yang disajikan oleh petugas perpustakaan. Siswa menggali informasi tentang unsur-unsur pantun, serta macam-macam pantun. Siswa berlatih membacakan pantun secara berpasangan. Pekan kedua, siswa diajak untuk menulis pantun. Di akhir pekan, siswa membacakan pantun buatan mereka di kelas.
Pekan ketiga: Siswa diajak untuk membaca teks tentang interaksi sosial. Siswa menggali informasi tentang macam-macam interaksi yang sering terjadi di lingkungan sekitar mereka. Siswa kemudian diajak menuangkan ide tentang interaksi yang sering dilihat atau dilakukan dalam bentuk gambar pada media papan kayu (talenan). Di akhir pekan, siswa mempresentasikan karya mereka di kelas.
Pekan keempat: Siswa diajak untuk membaca buku cerita yang ada di pojok baca. Siswa memilih buku yang mereka sukai. Setelah membaca, siswa membuat gambar ilustrasi dan resume yang berkaitan dengan buku yang dibacanya. Selanjutnya, siswa mempresentasikan hasil karyanya di kelas.
Produk yang dihasilkan dari kegiatan literasi "Sagusaka" dipamerkan dalam kelas dan mading sekolah.
Pelaksanaan program ini menggandeng komunitas sekolah yang tergabung dalam TPS (Tim Perpustakaan Sekolah) serta kepala sekolah sebagai penanggung jawab. Mulai dari perencanaan, pelaksaanaan, monitoring, dan evaluasi.
Alasan dilakukannya aksi nyata ini adalah untuk meningkatkan minat baca dan menulis siswa, meningkatkan wawasan peserta didik, serta menghasilkan produk karya siswa dari hasil literasi. Tujuan program ini sejalan dengan visi yang dibuat yaitu "Mewujudkan generasi yang berimtaq, ipteks, berkarakter pelajar Pancasila, dan berbudaya lingkungan". Dalam mewujudkan generasi yang kaya akan ilmu pengetahuan, literasi memegang peranan yang sangat penting.
3. Hasil dari Aksi Nyata
Ada dampak positif yang didapat setelah melaksanakan program literasi "Sagusaka". Dampak yang terlihat adalah minat membaca siswa mulai konsisten. Hal ini ditandai dengan antusias siswa membaca dengan inisiatif sendiri. Wawasan siswa bertambah setelah membaca dan menceritakan di depan kelas. Meningkatkan rasa percaya diri siswa, serta meningkatkan kreativitas siswa dalam berkarya. Selain itu, pelaksanaan program ini dapat meningkatkan kekompak antara guru, siswa, orang tua, serta komunitas sekolah. Dari pelaksanaan kegiatan ini, terbentuk karakter budaya positif yaitu budaya literasi pada diri siswa.
Monitoring, Evaluasi, Learning, dan Reporting
Monitoring dilakukan oleh kepala sekolah, pustakawan, dan siswa
Evaluasi dilakukan secara berkala dan menyeluruh terhadap program ini oleh kepala sekolah, guru, dan pustakawan
Learning dilakukan rencana tindak lanjut dari hasil evaluasi sebagai bahan pembelajaran dan temuan untuk perbaikan selanjutnya.
Reporting dilakukan oleh siswa dan guru pembina yang membuat laporan tertulis/lisan secara berkala kepada sekolah dan orang tua siswa.
Metode Pengambilan Data
Untuk melihat apakah program ini dapat meningkatkan minat baca siswa, data yang diperoleh dilakukan dengan wawancara dan observasi.
Evaluasi Pelaksanaan Program
Faktor pendukung:
1. Dukungan kepala sekolah, rekan guru, pustakawan, wali murid, dan siswa
2. Kolaborasi tim yang baik
Faktor penghambat:
Pelaksanaan kegiatan masih dilakukan secara semi daring, sehingga kendala gangguan teknis bisa terjadi.
Perasaan (Feeling)
Yang saya rasakan saat merencanakan dan melaksanakan program adalah saya merasa senang bisa turut berperan dalam mengembangkan potensi siswa dalam bidang literasi. Ada rasa haru dan kebanggan tersendiri, saat siswa menceritakan bahwa dulunya mereka malu-malu untuk tampil. Setelah melakukan kegiatan "Sagusaka" mereka sangat senang karena saat tampil mereka mendapat apresiasi dari teman-temannya. Selain itu, mereka dapat menuangkan imajinasi mereka melalui gambar dan menyampaikannya di depan kelas. Saya juga merasa bahagia karena program tersebut mendapat dukungan dari kepala sekolah, wali murid, dan komunitas sekolah.
Pembelajaran (Findings)
Pengelolaan program yang berdampak pada
murid, memiliki kaitan yang erat dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Setiap
program yang dikembangkan haruslah mendukung terwujudnya “Merdeka Belajar” dengan
memfasilitasi pengembangan potensi murid agar tumbuh kembangnya maksimal sesuai
kodrat alam dan kodrat zamannya.
Pendidik merupakan pemimpin pembelajaran
yang memiliki peran penting dalam menuntun siswa untuk memaksimalkan potensi yang
dimilikinya. Oleh sebab itu, seorang pendidik harus memiliki nilai-nilai
seperti mandiri, kreatif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak kepada murid.
Seorang pendidik perlu memiliki inovasi guna mendukung dalam menciptakan
perancangan program yang berdampak pada murid.
Program sekolah yang berdampak pada murid
dapat dilakukan dengan pendekatan “Inkuiri Apresiatif” melalui tahapan BAGJA. Pendekatan
kolaboratif dalam melakukan perubahan berbasis aset atau kekuatan yang dimiliki
sekolah. Dalam pelaksanaannya, pembiasaan komunikasi dua arah yang disertai
dengan penanaman nilai-nilai Pendidikan karakter dapat mendukung terciptanya
budaya positif di sekolah.
Program sekolah yang dibuat haruslah
disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid serta dapat membangun rasa sosial
emosionalnya. Apabila terjadi masalah dalam pelaksanaannya, guru dapat melakukan
coaching agar siswa dapat mengatasi masalahnya sendiri sesuai kemampuannya. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru perlu
mengedepankan nilai kebaikan bersama dalam mengambil suatu keputusan.
Agar program sekolah berdampak bagi murid,
seorang pemimpin harus memaksimalkan kekuatan sumber daya yang dimiliki
sekolah. Program yang dikembangkan dengan mempertimbangkan “Asset Based
Thingking” akan menjadi sumber kekuatan guna mendukung terlaksananya
program yang berdampak pada murid.
Program literasi “Sagusaka” merupakan
program yang telah dikembangkan berdasarkan ide-ide dari komponen sekolah
dengan mempertimbangkan aset yang dimiliki. Sekolah kami, memiliki perpustakaan
yang luas dan nyaman untuk belajar, sudut baca di tiap-tiap kelas, kepala
sekolah yang mendukung inovasi baru, guru yang mau berinovasi, rekan kerja yang
mau memberikan masukkan, pustakawan yang menguasai di bidangnya, orang tua yang
mendukung program sekolah, serta anak-anak yang semangat dan memiliki kemauan
tinggi untuk mengembangkan potensinya.
Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan
keseluruhan aksi adalah setiap program yang dijalankan ternyata ada risiko yang
dapat mengikuti. Seperti halnya pada program "Sagusaka". Kendala yang
dihadapi adalah pelaksanaan kegiatan masih dilakukan secara semi daring. Di
mana tidak semua siswa berada pada waktu yang sama saat pembuatan karya. Hal
ini karena pembatasan siswa masuk masih 25%, sehingga hanya sekitar 9-10 siswa
yang datang per hari. Hari selanjutnya dengan siswa yang berbeda. Selain itu, penyajian
presentasi hasil karya yang dilakukan secara virtual pun tidak luput dari
kendala teknis (sinyal yang tiba-tiba terputus, dan lainnya).
Dari pelaksanaan program tersebut,
pembelajaran yang dapat diambil adalah perlu adanya manajemen risiko untuk meminimalisir
terjadinya kondisi terburuk. Melalui evaluasi yang dilakukan secara berkala dan
menyeluruh.
Adapun keberhasilan yang diperoleh adalah
seluruh komponen saling bersinergi dalam pelaksanaan program. Siswa antusias
dan senang dalam mengikuti kegiatan, menumbuhkan minat baca. Selain itu, dapat
mengembangkan kreativitas siswa dengan membuat karya dari hasil literasi.
Pengelolaan program sekolah yang terstruktur dengan melibatkan seluruh komponen
ternyata memberi dampak yang luar biasa bagi peserta didik.
Penerapan ke Depan (Future)
Ada beberapa yang akan saya lakukan untuk perencanaan ke depan. Hal pertama yang akan saya lakukan untuk memperbaiki pembelajaran selanjutnya adalah dengan melihat kembali hasil evaluasi yang didapat dari program yang telah berjalan. Selanjutnya, kegiatan yang sudah baik, dipertahankan dan ditularkan di kelas-kelas yang lain. Memasukkan berbagai variasi kegiatan/ide baru dalam program. Kemudian mengajak serta siswa dari berbagai tingkatan untuk turut serta dalam kegiatan "Sagusaka". Adapun hal-hal yang masih perlu ditingkatkan, akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan tim literasi sekolah.
Dokumentasi
1. Melakukan koordinasi dengan KS, guru, pustakawan, dan wali murid
2. Melakukan koordinasi dengan siswa
3. Kegiatan pekan pertama (Puisi)
4. Program pekan kedua (Pantun)
5. Program pekan ketiga (Karya Gambar dari papan kayu/talenan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar