Selasa, 19 Oktober 2021

3.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual-Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Assalamu'alaikum wr.wb

Salam dan bahagia. 

Bapak/ibu guru hebat, kali ini saya akan berbagi demonstrasi kontekstual modul 3.3 tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid. Semoga bermanfaat.

Judul Program

Program yang akan saya lakukan adalah Gerakan Literasi Satu Minggu Satu Karya "Sagusaka"

Latar Belakang

Seorang pemimpin pembelajaran dituntut untuk mampu mengelola program yang berdampak pada murid. Agar memiliki dampak bagi murid, sudah seharusnya murid juga berperan serta dalam seluruh kegiatan. Mulai dari perencanaan, pembentukan tim, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, pembelajaran, dan pelaporan hasil kegiatan. 

Pengelolaan program yang berjalan saat ini, sebagaian besar merupakan kebijakan dari sekolah. Siswa belum sepenuhnya turut dalam perencanaan, monitoring, evaluasi, pembelajaran, dan pelaporan. Siswa hanya melaksanakan kegiatan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan sekolah kurang mengetahui apa yang diinginkan siswa, serta potensi-potensi yang dimiliki siswa tidak sepenuhnya dapat berkembang optimal. Selain itu, program yang ada hanya berjalan stagnan dan kurang inovatif.

Zaman telah berubah. Saat ini siswa hidup dan tumbuh dalam kodrat zaman yang serba teknologi. Kecakapan berliterasi dalam memahami informasi yang diterima, baik melalui media cetak maupun media elektronik sudah seharusnya dimiliki siswa agar mereka tidak mudah termakan isu yang belum tentu benar. Sayangnya, belum sepenuhnya siswa menyadari pentingnya literasi.

Literasi merupakan kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Definisi literasi kini berubah sesuai perkembangan zaman. Istilah literasi sudah digunakan dalam arti yang lebih luas. Artinya tidak hanya terbatas pada kegiatan membaca dan menulis. Literasi dapat meliputi memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasikan teks.

Tujuan dari literasi diantaranya adalah membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan cara membaca berbagai informasi yaang bermanfaat, membantu meningkatkan pemahaman seseorang dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca, meningkatkan kemampuan seseorang dalam memberikan penilaian kritis terhadap suatu karya tulis, membantu menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti, meningkatkan nilai kepribadian seseorang melalui kegiatan membaca dan menulis, menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi ditengah-tengah masyarakat secara luas, serta membantu meningkatkan kualitas penggunaan waktu sehingga lebih bermanfaat.

Adapun manfaat dari literasi adalah meningkatkan kemampuan memahami suatu informasi, menambah perbendaharaan kata, meningkatkan kemampuan verbal, mengoptimalkan kinerja otak karena sering digunakan untuk kegiatan seperti membaca dan menulis, mendapat berbagai wawasan dan informasi baru, menambah kemampuan interpersonal yang dimiliki, membantu meningkatkan daya fokus dan kemampuan konsentrasi, serta meningkatkan kemampuan seseorang dalam merangkai kata dalam menulis.

Untuk meningkatkan minat membaca dan menulis serta meningkatkan wawasan peserta didik, perlu suatu gerakan inovatif dimana siswa turut berperan disetiap tahapnya. Program tersebut adalah Gerakan Literasi Satu Minggu Satu Karya "Sagusaka". 

Tujuan Program

Tujuan dari Gerakan Literasi "Sagusaka" adalah:

1. Meningkat minat baca dan menulis peserta didik

2. Meningkatkan wawasan peserta didik

3. Menghasilkan produk karya siswa dari hasil literasi

Tujuan program ini, sejalan dengan visi yang dibuat yaitu "Mewujudkan generasi yang berimtaq, ipteks, berkarakter pelajar Pancasila, dan berbudaya lingkungan". Dalam mewujudkan generasi yang kaya akan ilmu pengetahuan serta ilmu teknologi, literasi memegang peranan yang sangat penting di dalamnya.

Tahapan BAGJA

Buat Pertanyaan:

Bagaimana minat baca, wawasan, dan karya literasi siswa?

Ambil Pelajaran:

  • Sekolah sudah menyediakan berbagai literatur buku diperpustakaan untuk keperluan belajar siswa.
  • Kelas sudah tersedia sudut baca untuk menumbuhkan budaya literasi siswa di kelas.

Gali Mimpi:

  • Murid produktif dalam mengisi waktu luangnya.
  • Murid berwawasan luas, cerdas, berkarakter.
  • Semua komponen sekolah mendukung tumbuhnya budaya literasi di sekolah.

Jabarkan Rencana:

  • Murid membaca 15 menit setiap hari sebelum pembelajaran dimulai untuk membudayakan minat baca.
  • Murid menceritakan kembali apa yang telah dibaca secara bergiliran setiap hari
  • Guru dan siswa menggali ide tentang kegiatan literasi yang menarik ditiap minggunya.
  • Guru dan siswa membuat rencana kegiatan unjuk karya hasil literasi setiap minggunya.
  • Guru dan siswa menyepakati kegiatan unjuk karya yang telah direncanakan.
  • Guru dan siswa melaksanakan kegiatan literasi yang disepakati.
  • Guru bersama siswa melakukan monitoring pelaksanaan kegiatan setiap minggunya.
  • Guru bersama siswa melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan.
  • Guru bersama siswa mengambil pelajaran dari kegiatan yang telah dilakukan
  • Siswa melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan di tiap minggunya.   

Atur Eksekusi:

  • Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah dan pustakawan
  • Menyusun tim program "Sagusaka" yang melibatkan siswa dan seluruh warga sekolah
  • Menyusun jadwal pelaksanaan program "Sagusaka" yang dimulai di minggu ke-3 bulan Oktober 2021.
  • Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program
  • Menyusun laporan hasil pelaksanaan program setiap minggunya secara berkesinambungan

Rencana MELR 

Monitoring:

Apakah kegiatan literasi sudah berjalan dengan baik?

Untuk memstikan bahwa kegiatan literasi sudah berjalan dengan baik, maka guru harus memastikan bahwa apa yang dibaca oleh siswa benar-benar dipahami dan diceritakan kembali dengan bahasanya sendiri. Selain itu, siswa dapat membuat karya dari kegiatan literasi yang mereka lakukan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat.

Evaluation:

  • Sejauh mana program literasi telah berjalan dan hambatan apa yang dialami?

Dalam kegiatan evaluasi harus diperhatikan bahwa tujuan dari literasi sudah tercapai atau belum dan hambatan apa saja yang dialami peserta didik.

  • Apakah kegiatan membaca sendiri bisa memahami isi bacaan?

Dari hasil observasi dan wawancara maka dibuat dalam bentuk kesimpulan yang dapat digunakan untuk perbaikan. 

  • Apakah kegiatan "Sagusaka" dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam berkarya?

Dilihat unjuk karya siswa dari hasil literasi selama seminggu sekali.

Evaluasi yang dilakukan menggunakan strategi pengolahan data deskriptif kualitatif.

Learning:

Peserta didik akan lebih memahami hasil literasi apabila dapat menceritakan hasil karya literasi mereka kepada orang lain.

Hambatannya ada beberapa siswa yang belum memahami apa yang dibacanya.

Reporting:

Guru dan siswa membuat laporan dalam bentuk foto/video/karya tulisan untuk ditindak lanjuti secara berkelanjutan dengan KS, guru, pustakawan, dan orang tua peserta didik.

Pelibatan Orang Tua dan Komunitas Praktisi

Orang tua dan komunitas sangat dibutuhkan dalam mendukung keberhasilan program ini. Peran orang tua adalah mendukung dan mendampingi saat anak berada di rumah serta bekerja sama dengan guru untuk turut serta dalam mengawasi dan memantau kegiatan literasi siswa di rumah. 

Adapun peran komunitas praktisi di sekolah adalah memberikan masukkan dan saran serta turut memantau pelaksanaan program "Sagusaka"

Senin, 18 Oktober 2021

3.2.a.7 Demonstrasi Kontekstual-Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 PEMETAAN ASET SEKOLAH

Assalamu'alaikum wr.wb

Salam dan bahagia.

Bapak/ibu guru hebat, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi demonstrasi kontekstual pada modul 3.2 tentang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Seorang pemimpin pada dasarnya harus mengetahui aset-aset apa saja yang dimiliki di sekolah agar dapat dimanfaatkan atau digunakan dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal. Pendekatan berbasis aset sangat diperlukan karena merupakan sumber kekuatan yang dimiliki.

Berikut ini profil sekolah tempat saya mengajar.

1. Nama Sekolah Sekolah: SDN Airlangga I/198 Surabaya

2. NPSN: 20532825

3. Status Sekolah: Negeri

4. Alamat: Jl. Gubeng Airlangga I No 2 Surabaya

5. Kecamatan: Gubeng

6. Kota: Surabaya

7. Email: sdnairlangga1_198@yahoo.co.id

8. Nama Kepala Sekolah: Drs. Matrai Faridhin, MM


PEMETAAN ASET SEBAGAI MODAL UTAMA DALAM SEBUAH SEKOLAH:


1.  Modal Manusia

- Kepala sekolah memiliki kualifikasi pendidikan S2, ulet dan tekun dan mendorong suatu perubahan positif.

- Guru (Guru kelas dan mapel berkualifikasi S1 dan S2, bisa IT, bersertifikasi, memiliki semangat belajar yang tinggi dan mau berinovasi, 1 orang guru peraih Best Ecoteacher tahun 2017 dan 2018, 1 orang guru pernah menjuarai OGN tingkat provinsi 2019 dan guru berprestasi 2020, 1 orang guru juara media Pkn tingkat kota tahun 2020, 1 orang guru sebagai pengisi terbaik ke 2 SBO TV)

- Tenaga kependidikan (TU, pustakawan yang terampil dan bisa IT, penjaga dan tukang kebun yang rajin dan kreatif)

- Mempunyai murid yang memiliki potensi dan bakat yang beragam yang siap dikembangkan.

- Stakeholder (orangtua, komite, pengawas, tokoh masyarakat, dinas pendidikan, dll) yang mendukung program dan pengembangan sekolah



2. Modal Sosial

- Bekerja sama dengan komunitas KKG kecamatan gubeng

- Bekerja sama dengan puskesmas

- Bekerja sama dengan kantor kecamatan dan masyarakat sekitar

Kerja sama sekolah, dinas pendidikan, dan puskesmas dalam menyiapkan "Sekolah Sehat"

3. Modal Fisik

- Memiliki gedung yang layak pakai (ruang kelas, perpustakaan, ruang guru, ruang KS, ruang UKS, ruang musik dan gamelan, ruang komputer, taman baca, ruang sumber/inklusi, tempat ibadah, lapangan sekolah, kantin, serta toilet)

- Memiliki infrastruktur yang memadai (jaringan listrik yang cukup besar, saluran air, jaringan internet/Wifi/LAN, komputer, LCD dan proyektor, alat prokes, alat olahraga, dan alat kebersihan)



4. Modal Lingkungan/Alam

- Terletak di perkampungan yang dekat dengan kantor kecamatan, rumah sakit, apotek, minimarket dan universitas Airlangga.

- Memiliki lingkungan yang cukup asri dan nyaman

- Pemanfaatan lahan sekolah dengan tanaman bunga dan buah serta tanaman hidroponik.

berikut aktivitas panen hidroponik:



https://www.instagram.com/reel/CVGFq9ABYQQ/?utm_medium=copy_link

5. Modal Finansial

- Memiliki dana BOS

- Memiliki dana BOPDA

- Tabungan hasil penjualan sampah organik/non organik

6. Modal Politik

- Dinas pendidikan yang mendukung perkembangan mutu pendidikan 

- Kerja sama dengan Tunas Hijau

- Kepercayaan masyarakat kepada lembaga pendidikan

7. Modal Agama dan Budaya

- Aktif dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan

- Tercipta kerukunan antarumat beragama

- Budaya gotong royong di lingkungan sekolah dan masyarakat

- Kegiatan lomba keagaam di sekolah

Apa yang kami kuasai?

Menciptakan lingkungan belajar yang bersih, nyaman dan aman, serta lingkungan sekolah yang hijau sehingga menumbuhkan karakter peduli lingkungan dan rasa kebersamaan dalam semangat kekeluargaan yang tinggi.

Apa yang kami banggakan dari sekolah kami? dari murid-murid kami?

Murid yang berbudi pekerti luhur, sopan santun, peduli lingkungan serta memiliki beragam potensi dan keunikan.

Apa yang membuat kami unik?

Sekolah kami mempunya Airone TV chanel yang disiarkan dari Youtube maupun Intagram.

Sekolah kami merupakan sekolah dengan layanan pendidikan inklusi, sehingga siswa reguler dan siswa ABK dapat sama-sama belajar di kelas yang sama.

Sekolah kami memiliki 3 orang guru pendamping khusus yang ahli dalam bidangnya.

Sekolah kami merupakn sekolah ramah anak dan sekolah adiwiyata. Beragam kegiatan seperti "Pasukan Semut" untuk memunguti sampah di halaman sekolah saat istirahat, "Program jumat bersih dan sehat" yang dilaksanakan hari jumat dengan makan bersama, bersih-bersih lingkungan sekolah, dan senam bersama. "Program jumat berbagi" dari kepedulian siswa dan guru terhadap warga lingkungan sekolah yang kurang mampu. "Program KWB" untuk membudayakan literasi seluruh warga sekolah. "Program ecoschool" siswa dan guru dalam mengelola lingkungan di sekolah dan luar sekolah. 

Kekuatan apa yang kami miliki dan berharga untuk masyarakat/komunitas sekitar?

Rasa kekeluargaan, kebersamaan, tanggung jawab, peduli, tenggang rasa yang tinggi, kolaborasi dan semangat memberi layanan pendidikan yang prima, serta proaktif dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Apa yang telah sekolah lakukan dan memiliki yang lebih baik dari orang lain?

Program ecoschool dan budaya positif yang berkesinambungan untuk menciptakan peserta didik yang berakhlak mulia, berkarakter dan berbudaya lingkungan.

Demikian yang dapat saya bagikan dalam pemetaan aset sumber daya di sekolah. Semoga dapat memberikan manfaat bagi bapak/ibu guru semua.

Wassalamu'alaikum wr.wb.



3.1 Aksi Nyata Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 Assalamu'alaikum wr.wb

Salam dan bahagia

Bapak/ibu guru hebat, kali ini saya akan berbagi aksi nyata pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi bapak/ibu semua.

Fact (Peristiwa)

Latar Belakang Situasi yang Dihadapi

Proses pendidikan di sekolah harus melibatkan semua warga sekolah terutama dalam menyelesaikan beberapa masalah yang dihadapi agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, penting menganalisis suatu permasalahan supaya keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah merupakan suatu keputusan terbaik.

Guru adalah sosok panutan bagi muridnya dan peran yang melekat pada diri seorang guru sangat penting bagi pembentukan karakter murid. Guru harus mempunyai keterampilan dalam memutuskan suatu permasalahan supaya dalam pengambilan keputusan dapat berdampak bagi warga sekolah dan murid. Hal inilah yang melatarbelakangi rencana aksi nyata yang akan dilakukan oleh saya untuk mengatasi permasalahan dilema etika di sekolah tempat saya mengajar.

Masa pandemi covid-19 yang sudah berjalan 2 tahun lebih, mengharuskan guru dan siswa melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Proses pembelajaran wajib diikuti oleh seluruh siswa. Di sini, peran guru kelas sangat diperlukan mulai dari merancang pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, serta melakukan evaluasi hasil dan refleksi pembelajaran. Saat saya mengajar kelas 5, terdapat salah satu murid yang tidak mengikuti pembelajaran daring. Saya kemudian berkonsultasi dengan kepala sekolah serta minta izin kepada beliau untuk melakukan home visit. Setelah ditelusuri dengan melakukan home visit, ternyata siswa tersebut merupakan keluarga broken home dan harus membantu ibunya berjualan, karena adiknya masih kecil. Kurangnya perhatian membuat ia kurang dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini menjadi dilema bagi saya dalam mengatasi murid tersebut.

Alasan dan Hasil Aksi Nyata

Berdasarkan hasil diskusi dengan rekan sejawat yang melibatkan sosial emosional dan pertimbangan lainnya, maka saya mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran untuk memberi kesempatan murid tersebut untuk mengerjakan tugas yang tertinggal serta membuat kesepakatan dengan murid tersebut untuk mengerjakan tugasnya secara offline, karena jika tinggal kelas maka akan berdampak pada masa depan murid tersebut. Aksi nyata ini saya lakukan agar seluruh murid mendapatkan haknya untuk mengikuti pembelajaran di masa pandemi.

Dilema yang saya hadapi akan diselesaikan menggunakan proses pengambilan keputusan pembelajaran dengan menerapkan 3 prinsip, 4 paradigma, dan 9 langkah keputusan.

Langkah 1: Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut?

Peraturan dan tanggung Jawab

Langkah 2: Siapa yang terlibat dalam situasi?

Kepala sekolah, guru kelas 5, murid, dan orang tua murid

Langkah 3: Apa fakta-fakta yang relevan dalam situasi tersebut?

- Murid tidak pernah mengikuti pembelajaran sejak awal masuk di tahun ajaran 2021-2022

- Murid merupakan keluarga broken home

- Murid tersebut ikut membantu orangtua berjualan

Langkah 4: Pengujian benar salah

Pengujian benar salah menggunakan uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, serta uji panutan/idola.

Langkah 5: Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada situasi tersebut?

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Langkah 6: Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, prinsip mana yang akan dipakai?

Berpikir berbasis rasa peduli (care based thinking)

Langkah 7: Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini?

Jika pengambilan keputusan memakai prinsip berbasis peraturan, maka dapat dipastikan siswa tersebut akan tinggal kelas dan berdampak pada masa depannya.

Langkah 8: Apa keputusan yang akan diambil?

Keputusan yang diambil adalah saya mengadakan home visit dan berkomunikasi langsung dengan murid dan orangtua murid serta membuat kesepakatan terkait pembelajaran yang dilakukan murid tersebut.

Langkah 9: Coba lihat lagi keputusan dan refleksikan.

Keputusan yang diambil sudah sesuai karena sudah memikirkan jangka panjang murid tersebut.

Feeling (Perasaan)

Perasaan saya setelah melakukan aksi nyata ini adalah sangat bahagia dan senang bisa membantu murid dalam mengatasi masalah dalam pembelajarannya. Saya merasa keputusan yang diambil sudah tepat dengan melaksanakan home visit dan berkomunikasi langsung dengan murid dan orangtua murid. Saya juga memberikan kesempatan murid tersebut mengejar ketertinggalan tugas. Selain itu saya dapat memotivasi siswa tersebut melalui teknik coaching serta membuat kesepakatan.

Finding (Pembelajaran)

Pembelajaran yang saya dapat dari aksi nyata pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah saya dapat menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu masalah murid. Dengan menerapkan 9 langkah pengambilan keputusan, maka keputusan yang diambil merupakan keputusan terbaik karena sudah dipertimbangkan dengan matang. Saya juga bisa belajar memahami keadaan orang lain dan bisa menerapkan teknik coaching serta pengambilan keputusan yang telah didapatkan dari modul ini. 

Future (Penerapan ke Depannya)

Kedepannya, jika saya menghadapi dilema etika, saya akan terus mengasah kemampuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan agar dapat lebih baik lagi dalam memutuskan suatu dilema menggunakan 4 paradigma etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan keputusan sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan terbaik dan berpihak kepada murid. Selain meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan, saya juga akan selalu berusaha menerapkan teknik coaching dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapi


DOKUMENTASI

Konsultasi dan izin dengan Kepala Sekolah untuk Mengadakan Home Visit



Diskusi dengan Rekan Sejawat



Home Visit



Proses Pengerjaan Tugas yang Tertinggal



3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

 JURNAL MONOLOG

Demonstrasi Kontekstual Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran



Bagaimana anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan anda?


Jawab:

Secara umum saya sudah mentransfer pengetahuan yang sudah saya dapat di program guru penggerak di lingkungan sekolah saya, baik kepada KS, rekan guru, wali murid, maupun murid. Mulai dari modul pertama, tentang filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, serta visi guru penggerak. Modul ke dua tentang pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional, serta coaching. Kemudian di modul 3, sudah saya awali dengan praktik pengambilan keputusan bersama rekan sejawat. Sebelum saya menyampaikan ke rekan sejawat, biasanya saya pasti melakukan praktik atau aksi nyata di kelas saya terlebih dahulu. Hasil dari praktik tersebut saya dokumentasikan dan saya bagikan pada rekan sejawat pada forum rapat sekolah. Alhamdulillah, rekan sejawat merespon baik dan memberi respons positif program ini. Selain itu, kegiatan aksi nyata mulai dari modul 1 juga sudah dipublikasikan melalui WA grup, artikel blog, maupun video aksi nyata. Yang paling berkesan bagi saya adalah, saya memperoleh ilmu dan pemahaman baru tentang konsep merdeka belajar. Segala upaya yang dilakukan adalah berpusat pada murid, dengan melihat keberagaman dan kebutuhan belajar mereka. Saya lebih memahami bagaimana memberikan pembelajaran yang merdeka bagi siswa agar pembelajaran lebih menyenangkan dan dapat diterima siswa dengan mudah. Saya juga mengajak rekan guru di dalam komunitas praktisi untuk bergabung, merancang program dan kegiatan yang berpusat pada siswa, baik secara langsung di forum diskusi, maupun melalui aplikasi WhatsApp. Untuk materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya akan terlebih dahulu mengkomunikasikan dengan kepala sekolah, dan rekan guru yang ada pada komunitas praktisi. Alhamdulillah, setiap rancangan kegiatan yang didiskusikan dengan kepala sekolah dan komunitas praktisi, memperoleh dukungan penuh sehingga memudahkan saya untuk menerapkan kegiatan guru penggerak di sekolah saya. 


Apa langkah-langkah awal yang akan anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?


Jawab:

Untuk mulai mengawali, tentunya saya akan mulai dari diri saya sendiri, sebagai contoh bagi rekan-rekan di sekolah saya nantinya. Saya akan mulai mengenali masalah apa yang sedang saya alami apakah termasuk ke dalam dilema etika atau dalam kasus bujukan moral. Dengan langkah-langkah yang pertama adalah saya harus mengenali nilai-nilai yang bertentangan, kemudian menganalisis siapa saja yang terlibat, kemudian juga harus mengumpulkan fakta-fakta yang ada dan itu relevan, melakukan pengujian benar atau salah dengan 5 uji, yakni uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, dan uji panutan, bila lolos uji tersebut, dilanjutkan dengan pengujian paradigma benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi, investigasi opsi trilema, buat keputusan, lihat lagi keputusan dan refleksikan. 


Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa?. Catat rencana Anda, sehingga anda tidak lupa.

Jawab:

Saya akan mulai menerapkan langkah-langkah tersebut mulai hari ini, Kamis 9 september 2021 yang saya mulai dari diri sendiri, yakni untuk menganalisis atau mengenali permasalahan yang saya alami, ataupun dilema yang terjadi pada pembelajaran di kelas saya. Dengan menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan hingga saya dapat mengambil keputusan terbaik terhadap dilema yang saya alami. 


Siapa yang akan mendampingi Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.


Jawab:

Yang akan mendampingi saya dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah rekan rekan senior saya serta kepala sekolah yang memiliki peran sebagai penanggung jawab maupun pengambil keputusan terbesar di sekolah dan juga mendampingi saya, apakah langkah yang saya ambil itu sudah tepat dan sesuai. 

Demikian tadi Jurnal monolog, demonstrasi kontekstual pada modul 3, pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.  Sampai jumpa di kesempatan selanjutnya. Salam dan bahagia, wassalamu’alaikum wr.wb.


3.2.a.9 Koneksi Antarmateri - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 Assalamu'alaikum wr.wb

Salam dan bahagia.

Bapak/ibu guru hebat di seluruh Indonesia, pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan koneksi antar materi modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

A. SINTESIS BERBAGAI MATERI

Sekolah sebagai Ekosistem

Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara unsur hidup dan unsur yang tidak hidup. Sekolah sebagai ekosistem, di dalamnya terbentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup) yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Ekosistem tersebut menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Unsur biotik antara lain kepala sekolah, pengawas, guru dan tenaga pendidik, murid, orangtua dan masyarakat sekitar. Adapun unsur abiotik diantaranya adalah keuangan, sarana dan prasarana. 

Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya yaitu pemimpin yang mampu mengenali potensi dan kekuatan yang ada kemudian memanfaatkannya untuk pengembangan lembaga yang dipimpinnya. Seorang pemimpin diharapkan dapat mengenali potensi dan aset yang dimiliki sekolah dan sekitarnya kemudian diberdayakan untuk proses pembelajaran yang berdampak pada pengembangan sekolah.

Pengelolaan sumber daya yang tepat akan sangat membantu dalam proses pembelajaran murid, sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan. Dengan menuntun murid untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya, maka murid akan lebih terbuka serta termotivasi untuk aktif, kreatif, dan semangat dalam belajar.

Ada 2 macam pendekatan, yaitu pendekatan berbasis kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Aset-Based Thinking). Pendekatan berbasis kekurangan yaitu pendekatan yang berfokus pada kekurangan, masalah, maupun isu yang terjadi dalam sebuah lembaga. Pendekatan Berbasis Aset (Aset-Based Thinking) yaitu pendekatan dengan mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya/aset yang dimiliki untuk merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan yang selanjutnya dilaksanakan sesuai program yang telah dibuat.

Terdapat 7 pemetaan aset sekolah, yaitu modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan alam, modal finansial, modal politik, serta modal agama dan budaya. 

Cara Implementasi di Kelas, Sekolah, dan Masyarakat

1. Merencanakan perubahan kecil di kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar.

2. Bekerja sama untuk memetakan aset/modal sekolah dengan pendekatan berbasis aset.

3. Melakukan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak

4. Merubah Mindset dan melaksankan aksi nyata di kelas, sekolah, dan masyarakat.

5. Melakukan refleksi dan evaluasi

Hubungan Pengelolaan Sumber Daya Sekolah dalam Peningkatan Kulitas Belajar

Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya sekolah memastikan proses pembelajaran yaang berpihak pada murid berjalan dengan lancar, aman, dan menyenangkan. Semua aset atau sumber daya sekolah saling bekerjasama dalam mewujudkan murid yang memiliki karakter profil pelajar pancasila.

Koneksi Antar Materi

Filosofi Ki Hajar Dewantara

Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Sebagai seorang guru, sudah seharusnya dapat melakukan pendekatan berbasis aset demi memberikan pelayanan pembelajaran pada muridnya sesuai dengan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki murid.

Budaya Positif

Pemetaan aset sekolah dengan menggunakan pendekatan pendekatan berbasis aset merupakan pola pikir positif yang berfokus pada kekuatan/potensi setiap sumber daya sehingga fokus pada kekuatan atau potensi tersebut demi terciptanya budaya positif di lingkungan sekolah.

Pembelajaran Berdiferensiasi

Mengelola sumber daya berdasarkan minat, bakat, dan potensi sehingga kebutuhan belajarnya terpenuhi yaitu melalui diferensiasi konten, proses maupun profil belajar murid.

Kompetensi Sosial dan Emosional

Kompetensi sosial dan emosional sangat mendukung pengelolaan sumber daya yang saling bersinergi, gotong royong dan rasa memiliki sekolah yang tinggi serta memiliki rasa empati  terhadap sesama.

Pengambilan Keputusan

Dalam pengambilan suatu keputusan dalam pengelolaan aset/modal yang dimiliki oleh sekolah harus mempertimbangkan prinsip-prinsip pengambilan keputusan, paradigma etika yang ada dan menerapkan 9 langkah pengujian dan pengambilan suatu keputusan sebagai seorang pemimpin. Pengambilan keputusan yang tepat melalui 9 langkah dapat melahirkan suatu keputusan yang dapat mengakomodir kepentingan warga sekolah dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Coaching

Praktik coaching merupakan salah satu teknik yang bisa digunakan untuk menemukan/mengidentifikasi dan memaksimalkan aset yang ada, terutama yang berhubungan dengan aset/modal manusia. Dengan teknik coaching, murid, guru, dan orangtua akan terbantu dalam hal menemukan solusi dari permasalahannya sendiri.

Pendekatan Berbasis Aset melalui BAGJA

Melalui pendekatan model BAGJA, kita dapat melakukan perubahan di kelas yaitu melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Buat pertanyaan tentang apa yang akan kita laksanakan berdasarkan materi yang sedang kita pelajari.

2. Ambil pelajaran mengenai hal yang pernah dilakukan terkait pembelajaran

3. Gali mimpi, berupa hal menyenangkan yang membuat murid merasa termotivasi dan ingin sekali melakukannya.

4. Jabarkan rencana, membuat sebuah rencana kegiatan pembelajaran yang menyenangkan bagi murid.

5. Atur ekseskusi, yakni melaksanakan rencana yang telah dibuat.

Hubungan antara Sebelum dan Sesudah Mengikuti Pelatihan Modul Ini

Sebelum mempelajari modul ini, saya cenderung deficit based thinking, saya selalu mencari kekurangan-kekurangan yang saya miliki yang pada akhirnya menyebabkan saya pesimis dan cenderung mengalami kegagalan

Setelah mempelajari modul ini, saya memahami bahwa awal perubahan dimulai dari perubahan pola pikir dari yang mulanya deficit based thinking menjadi aset based thinking dengan mengenali potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk maju dan berkembang.


B. RANCANGAN TINDAKAN

Untuk rancangan tindakan, dapat diakses melalui link berikut ini:



Rancangan tindakan aksi nyata 3.2


\

Selasa, 12 Oktober 2021

3.1.a.9 Koneksi Antarmateri

Assalamu'alaikum wr.wb.

Salam dan bahagia. 

Bapak/ibu guru hebat, kali ini saya akan berbagi koneksi antarmateri pada modul 3.1 dengan modul sebelumnya.

Pengaruh Pratap Triloka terhadap Pengambilan Keputusan Seorang Pemimpin Pembelajaran:

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil sebuah keputusan seyogyanya dapat memberikan teladan bagi yang dipimpinnya. Hal ini sebagai wujud dari pencerminan "Ing ngarso sung tuladha", yakni di depan memberi teladan. Dengan adanya teladan atau contoh yang baik, diharapkan seluruh anggota juga mencerminkan perilaku yang sama baiknya. Selain memberi teladan, seorang pemimpin pembelajaran juga harus membangun semangat "Ing madya mangun karsa", yakni di tengah membangun prakarsa atau semangat. Teladan dan semangat tersebut juga harus diimbangi dengan memberi dorongan "Tut wuri handayani" (dari belakang memberi dukungan), demi terciptanya lingkungan yang nyaman dengan pengambilan keputusan yang berdampak bagi murid.

Pengaruh Nilai-nilai yang Tertanam dalam Diri Kita terhadap Prinsip Pengambilan Keputusan:

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita sangat berpengaruh pada prinsip pengambilan keputusan. Bila seseorang yang cenderung utilitirianisme akan mengambil prinsip End-Based Thinking. Seorang birokrat yang terbiasa bersinggungan langsung dengan banyak regulasi atau seorang yang biasa namun ideologis akan cenderung mengambil prinsip Rule-Based Thinking dalam pengambilan keputusan. Sedangkan seseorang yang memiliki empati tinggi akan lebih banyak mengambil prinsip Care-Based Thinking dalam pengambilan keputusan. 

Keterkaitan Modul Coaching dan Modul Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran:

Pengambilan keputusan berkaitan erat dengan coaching. Saat seseorang dihadapkan dengan sebuah dilema, menurut saya bisa juga diselesaikan dengan coaching. Karena dalam proses pengambilan keputusan, didalamnya terdapat komunikasi asertif dengan membangun hubungan yang positif serta menggali potensi yang dimiliki agar coachee dapat mengambil keputusannya sendiri dengan cara yang terbaik. 

Pembahasan Studi Kasus yang Fokus pada Masalah Moral atau Etika Kembali kepada Nilai-nilai yang Dianut seorang Pendidik:

Pada dasarnya, setiap orang memiliki nilai-nilai kebajikan yang dianutnya sendiri. Nilai-nilai yang dianut pendidik tersebut akan mendasari pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman:

Harapannya, ketika diambil sebuah keputusan akan tercipta sebuah lingkungan yang positif. Untuk itu, pengambilan sebuah keputusan harus tetap dibangun sebuah hubungan yang positif serta dikomunikasikan secara asertif, guna meminimalisir ketidakpuasan banyak orang akibat keputusan yang diambil. Sebuah keputusan tidak mungkin bisa menyenangkan seluruh orang dari setiap keputusan yang diambil, namun setidaknya bisa meminimalkan ketidakpuasan bagi banyak orang.

Kesulitan-kesulitan di Lingkungan Saya yang Sulit Dilaksanakan untuk Menjalankan Pengambilan Keputusan terhadap Kasus-kasus Dilema Etika:

Pengalaman mengajar yang baru beberapa tahun serta masih tergolong junior di sekolah, terkadang menjadi kesulitan saya dalam pengambilan keputusan dalam komunitas. Adanya rasa sungkan ketika memimpin rapat, kadangkala berimbas pada keputusan yang nantinya diambil. Setelah mempelajari modul 3.2 ini, saya menyadari perlu menyamakan paradigma agar nantinya dapat berjalan beriringan. Sebelum mengambil suatu keputusan untuk perubahan besar, minimal saya harus melakukan perubahan dalam diri maupun pembelajaran  yang berdampak positif, sehingga dapat menjadi contoh nyata bagi guru-guru lain untuk turut bergerak melakukan perubahan.   

Pengaruh Pengambilan Keputusan yang Diambil dengan Pengajaran yang Memerdekakan Murid:

Perubahan yang dilakukan di kelas dengan memberikan pembelajaran yang berpihak kepada murid dalam mempersiapkan dirinya hidup dalam masyarakat untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatannya. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran, memiliki pengaruh dan dampak yang besar bagi murid. Ketika guru berani mengambil keputusan membuat perubahan cara belajar yang awalnya hanya ceramah, menjadi berbasis aktivitas dengan melihat kebutuhan belajar murid, awalnya mungkin terlihat berat karena guru harus mampu memetakan kebutuhan belajar. Namun jika hal itu terlaksana dengan baik, ternyata membawa dampak yang sangat besar bagi murid. Mereka lebih merdeka dalam belajar, dan menyenangi apa yang mereka pelajari. 

Pengambilan Keputusan dapat Mempengaruhi Kehidupan atau Masa Depan Murid-muridnya:

Keputusan yang diambil oleh seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran, akan menjadi salah satu faktor keberhasilan murid di masa mendatang. Dalam pembelajaran, keputusan yang diambil harus bisa menuntun serta memberikan ruang untuk murid dalam mengembangkan potensinya. Oleh karenanya, sebagai pemimpin pembelajaran, guru memang perlu memahami tahap pengambilan keputusan agar keputusan yang diambil nantinya memiliki dampak positif bagi murid.

Koneksi Antarmateri dengan Modul Sebelumnya:



Materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran memiliki koneksi dengan materi pada modul sebelumnya. Pratap triloka pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak yang berpihak pada murid, tujuan atau visi guru penggerak yaitu memberikan pembelajaran yang merdeka dengan penanaman budaya positif serta pembelajaran berdiferensiasi untuk pembelajaran yang menyesuaikan kebutuhan belajar murid. Disamping itu, pembelajaran sosial emosional sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Coaching sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. 

Demikian koneksi antar materi untuk modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum wr.wb.






PEMBATIK LEVEL 4: BERBAGI DAN BERKOLABORASI

  KEGIATAN PEMBATIK LEVEL 4: BERBAGI DAN BERKOLABORASI Pada kegiatan pembaTIK level 4, saya mempelajari 3 Modul yaitu: Modul 11 : Membangun ...